NILAI-NILAI PENDIDIKAN DARI KONSEP IMAM AL-GHAZALI TENTANG KEWAJIBAN MEMELIHARA LISAN
Dedeh Jubaedah M. Pd.i., M. Pd.

Abstrak

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali adalah seorang fuqaha (ahli fiqih) terkemuka, teolog dan sufi, dilahirkan pada 450 H / 1058 M di kota Thus. Karyanya yang terpopuler adalah kitab Ihya Ulumuddin. Salah satu yang dibahas dalam kitab ini adalah tentang Afatul Lisan yang secara etimologis berarti kebinasaan atau kerusakan lisan. Namun Afat Lisan bila dilihat dari fungsi lisan, dapat diartikan mengandung bahaya. Sehingga Afat Lisan dapat diterjemahkan bahaya lisan. Karya Al-Ghazali tersebut menyebar kemana-mana dan banyak dikaji hingga sekarang. Hal ini membuat namanya termashur, tidak haya dalam dunia Islam namun sampai menjangkau dunia barat. Tampilnya Al-Ghazali memberikan citra tersendiri, dengan ketinggian intelektualnya sehingga beliau tidak bisa ditentukan atau dispesialisasikan keilmuannya, karena begitu banyaknya berbagai keilmuan yang ditekuninya.

Penelitian ini menggunakan metode deskriftif yaitu metode yang menggambarkan atau melukiskan suatu hal yang terjadi atau sedang berlangsung yang bertujuan untuk memberikan jawaban yang sistematis tentang fakta tertentu. Sedangkan Teknik penelitian ini menggunakan book survey atau disebut juga dengan studi literatur. Yaitu dengan jalan mengumpulakn data-data dan literatur lainnya yang ada kaitannya dengan masalah yang sedang dikaji.

Penelitian ini diperoleh beberapa kesimpulan yaitu : (a) lisan menurut konsep Al-Ghazali adalah sebagi alat pembantu untuk menterjemahkan dan menyampaikan segala sesuatu. Oleh karena itu maka wajib

 

bagi setiap mukalaf untuk memeliharanya dari setiap ucapan, kecuali ucapan yang jelas-jelas mengandung manfaat. Jika manusia itu tidak mampu untuk mengatakan perkataan yang baik-baik atau yang bermanfaat maka lebih baik diam, karena dengan diam peluang untuk melakukan kesalahan yang bersumber dari lisan dapat dihindarkan. (b) esensi dari konsep Al-Ghazali tentang keharusan memelihara lisan adalah :  lisan memiliki kesempatan yang luas yang harus dipergunakan kepada hal yang bermanfaat, lisan yang baik dalam berbicara adalah lisan yang dikendalikan dengan kendali syar’I yaitu berupa keimanan dan ketaqwaan, lisan dapat mengangkat derajat manusia menjadi mulia dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat. (c) pendapat para ahli Pendidikan tentang keharusan memelihara lisan, bahwa pemeliharaan lisan merupakan suatu kewajiban bagi manusia agar selamat hidupnya, yaitu dengan cara mengatakan yang baik, benar, dan bermanfaat atau memilih diam. Karena dengan diam peluang untuk melakukan kesalahan dapat dihindarkan. (d) nilai-nilai Pendidikan dari konsep Al-Ghazali tentang keharusan memelihara lisan  adalah : mendidik diri dengan mempergunakan lisannya dengan sebaik-baiknnya seperti berdzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, takbir, tahmid dan lain sebagainya. Yang disertai dengan pola, etika dan strategi pembicaraan yang baik agar dapat menghasilkan pembicaraan yang baik pula. Mendidik manusia untuk menumbuhkan kesadaran dan konsekwensi ucapannya. Mendidk manusia dengan akhlak yang baik yaitu dengan cara memberdayakan lisannya dari berbagi macam bahaya yang ditimbulkannya.



© 2014 copyright | Design & Programming by ICT UNMA BANTEN